Membentuk Karakter Anak: Perspektif Spiritual Well-Being dalam Khazanah Penafsiran Al-Qur’an
AKAN TERBIT
Rp. 69.000
- Hilma Laila
- CV Hakim Publishing
- 14.5 x 20.5 cm
- 106 Halaman
- Tahun 2026
Tambah Ke Keranjang Beli Sekarang
Di tengah perubahan zaman dan berbagai tantangan moral yang dihadapi generasi muda, pembentukan karakter anak tidak cukup hanya berorientasi pada perilaku lahiriah. Anak membutuhkan fondasi spiritual yang membimbing hubungannya dengan Allah, dirinya sendiri, keluarga, dan lingkungan sosial.
Buku “Membentuk Karakter Anak: Perspektif Spiritual Well-Being dalam Khazanah Penafsiran Al-Qur'an” mengkaji nilai-nilai pembentukan karakter anak dalam khazanah penafsiran Al-Qur'an, khususnya melalui Tafsir Al-Azhar karya Hamka dan Jāmi' al-Bayān karya Al-Tabarī. Kajian ini menunjukkan bahwa tauhid merupakan fondasi utama pembentukan karakter, yang kemudian tercermin dalam ketaatan kepada Allah, pengendalian diri, bakti kepada orang tua, kepedulian sosial, dan tanggung jawab dalam kehidupan.
Melalui perspektif spiritual well-being, nilai-nilai tersebut dipahami dalam dua dimensi yang saling melengkapi: religious well-being, yaitu hubungan manusia dengan Allah, dan existential well-being, yaitu hubungan dengan diri sendiri, keluarga, dan lingkungan.
Perbedaan corak penafsiran Hamka yang sosial-kemasyarakatan dan Al-Tabarī yang berbasis riwayat memperlihatkan kekayaan khazanah tafsir dalam memahami pembentukan karakter. Keduanya menegaskan bahwa karakter yang kokoh tidak hanya dibentuk melalui pengetahuan dan pembiasaan, tetapi juga melalui kedalaman spiritual yang menjadi sumber nilai dan arah kehidupan.
Buku “Membentuk Karakter Anak: Perspektif Spiritual Well-Being dalam Khazanah Penafsiran Al-Qur'an” mengkaji nilai-nilai pembentukan karakter anak dalam khazanah penafsiran Al-Qur'an, khususnya melalui Tafsir Al-Azhar karya Hamka dan Jāmi' al-Bayān karya Al-Tabarī. Kajian ini menunjukkan bahwa tauhid merupakan fondasi utama pembentukan karakter, yang kemudian tercermin dalam ketaatan kepada Allah, pengendalian diri, bakti kepada orang tua, kepedulian sosial, dan tanggung jawab dalam kehidupan.
Melalui perspektif spiritual well-being, nilai-nilai tersebut dipahami dalam dua dimensi yang saling melengkapi: religious well-being, yaitu hubungan manusia dengan Allah, dan existential well-being, yaitu hubungan dengan diri sendiri, keluarga, dan lingkungan.
Perbedaan corak penafsiran Hamka yang sosial-kemasyarakatan dan Al-Tabarī yang berbasis riwayat memperlihatkan kekayaan khazanah tafsir dalam memahami pembentukan karakter. Keduanya menegaskan bahwa karakter yang kokoh tidak hanya dibentuk melalui pengetahuan dan pembiasaan, tetapi juga melalui kedalaman spiritual yang menjadi sumber nilai dan arah kehidupan.
