BLANTERTOKOSIDEv102
6217215329334371520

Mindfulness dalam Perspektif Al-Qur'an: Menemukan Makna Kesadaran melalui Prinsip Ihsan

Mindfulness dalam Perspektif Al-Qur'an: Menemukan Makna Kesadaran melalui Prinsip Ihsan


AKAN TERBIT

Rp. 87.000
  • Indana Zulfa
  • CV Hakim Publishing
  • 14.5 x 20.5 cm
  • 162 Halaman
  • Tahun 2026

Tambah Ke Keranjang Beli Sekarang
Di tengah kehidupan yang semakin cepat, penuh tuntutan, dan sarat distraksi, manusia sering kali hadir secara fisik, tetapi tidak sepenuhnya hadir dalam kesadarannya. Mindfulness hadir sebagai salah satu pendekatan psikologis yang mengajak manusia untuk kembali menyadari apa yang sedang dialami, menerima keadaan dengan lapang, mengendalikan reaksi, serta menjalani kehidupan dengan perhatian yang utuh.
Namun, benarkah kesadaran semacam itu merupakan gagasan yang sepenuhnya baru? Bagaimana jika konsep kesadaran dalam mindfulness dibaca melalui perspektif Al-Qur'an?
Buku Mindfulness dalam Perspektif Al-Qur'an: Menemukan Makna Kesadaran melalui Prinsip Ihsan mengajak pembaca menelusuri titik temu sekaligus perbedaan antara konsep mindfulness yang dikembangkan Jon Kabat-Zinn dengan prinsip ihsan dalam Al-Qur'an. Kajian ini menunjukkan bahwa kesadaran penuh, penerimaan, pengendalian reaksi, tindakan yang dilakukan dengan penuh perhatian, dan kepedulian terhadap sesama memiliki relevansi dengan nilai-nilai Qur'ani seperti muraqabah, keikhlasan, pengendalian diri, kesempurnaan amal, dan kepedulian sosial.
Meski demikian, mindfulness dan ihsan tidak dapat disamakan begitu saja. Keduanya berangkat dari landasan filosofis dan sumber nilai yang berbeda. Mindfulness dalam kerangka Kabat-Zinn lebih banyak ditempatkan dalam konteks psikologis dan pengembangan kesadaran manusia, sedangkan ihsan berakar pada tauhid dan kesadaran akan kehadiran serta pengawasan Allah Swt. Karena itu, kesadaran dalam perspektif Al-Qur'an tidak berhenti pada kemampuan untuk hadir pada saat ini, tetapi bergerak menuju kesadaran spiritual yang melahirkan kualitas amal, keikhlasan, tanggung jawab, dan kedekatan kepada Allah.
Buku ini pada akhirnya menawarkan sebuah perspektif bahwa mindfulness dapat dipertemukan secara dialogis dengan khazanah Islam, bukan dengan mengidentikkannya dengan ihsan, melainkan dengan menempatkannya sebagai pendekatan psikologis yang dapat mendukung penghayatan nilai-nilai ihsan selama tetap berada dalam koridor akidah dan syariat Islam.
Dengan demikian, buku ini bukan sekadar membahas bagaimana manusia “sadar pada saat ini”, tetapi mengajak pembaca menemukan pertanyaan yang lebih mendasar: kepada siapa kesadaran itu diarahkan, untuk apa kesadaran itu dibangun, dan bagaimana kesadaran tersebut membentuk kualitas kehidupan seorang manusia